Disini saya akan berbagi apa yang saya baca dan meresensi nya atau lebih tepatnya menyampaikan ulang sebagian besar yang ada pada buku yang berjudul “Teknologi dan dampak kebudayaanny Manusia tidak akan tinggal diam saja. Lagi, bila kita melihat keluasan dan kemaharayaan angkasa dengan sekian galaksi penuh misteri, namun juga dunia mahakecil dalam unsur-unsur atom ataupun alam bakteri dan virus, yang serba menghimbau dan menggoda keberanian sains dan teknologi sang manusia, maka kita hanya dapat tepekur diam penuh syukur. Namun bila pandangan kita terarah horisontal dan melihat sekian masalah kemis• kinan dan keterbelakangan kawan-kawan sebangsa dan sekampung, ditambah segala kemacetan dan kebingungan para ahli dan penguasa menghadapi semua itu, kita tiba-tiba sadar, bahwa betapa pun hebatnya, teknologi ruang angkasa dan yang tinggi mahal semacam itu bukanlah tugas kita yang pertama dan utama. Teknologi yang menghimbau kita ialah teknologi yang mampu lekas menguasai persoalan – persoalan rnendesak sehari-hari yang sangatlah biasa: air minum, penerangan, tekstil, bahan-bahan dan konstruksi perumahan, jalan – jalan kornunikasi dan sebagainya. Namun segera kita sadar juga, bahwa teknologi yang "biasa" di dalam situasi dan kondisi masa kini : tidak dapat lepas dari teknologi yang lebih tinggi, lebih rurnit, lebih luar biasa.
Kumpulan gagasan-gagasan para ahli dari bermacam-macam spesialisasi, baik dari Indonesia sendiri maupun dari Iuar negeri, semoga bias utnuk memahami cara-cara kerja serta dampak pengaruh teknologi itu bagi kehidupan kita. Namun tak ketinggalan pula, semoga dapat merenungkan lebih jauh dan lebih dalam lagi mengenai hakekat teknologi itu sendiri, jiwa dan ideologi maupun filsafat apa yang sebenarnya telah mengejawantah dalam benda-benda hasil teknologi maupun proses mental sosialnya yang sangat perlu kita perhatikan. Demikianlah semoga lebih bertanggungjawablah kita dalam pengolahan serta penataan seluruh kornpleks teknologi, baik bagi yang menerima maupun yang menolaknya atau lebih tepat, mana yang harus kita terima dan kita asimilasi ke dalam tubuh kebudayaan kita, dan mana yang wajib kita tolak. Kami berangkat dari pengandaian, bahwa mau tidak mau kita harus aktif berhadapan dan mengolah segala apa yang berkaitan dengan Teknologi. Aktif disini berarti gamblang, paham perkara dan tahu solusinya, bertanggung jawab baik bagi pribadi maupun generasi yang akan datang. Apakah makna dan dampak kebudayaan masyarakat; pertanyaan-pertanyaan senada "rnau ke mana", "mengapa justru itu dan begitu", "untuk apa" dan sebagainya. Sebab pertanyaan-pertanyaan perihal teknologi searah itu sangat menentukan demi pengembangan strategi dan politik teknologi yang arif.
Memanglah, pengangkatan suatu bangsa berwarga 150 juta orang tidak mungkin tanpa pertolongan teknologi. Namun struktur, cara kerja dan banyak perkara dalam proses berteknologi di masa sekarang sudah kelewat kompleks. Simple homilies about progress or the exclusive use of criteria of economic efficiency will no longer suffice ( khotbah – khotbah gampang tentang kemajuan atau penggunaan efisiensi ekonomi selaku tolok ukur satu-satunya sudah tidak cukup Iagi), demikian pendapat Langdon Winner, ahli ilmu politik teknologi dan kualitas hidup dari Massachusetts Institute of Technology. In the professions, you find many people arguing that what appeared to be useful techniques and strategies haven't worked well, for example Peter Blake's criticism of modern architecture in "Form Follows Fiasco". Both insiders and outsiders are beginning to ask "What are we doing here, and why?" and drawing upon a much richer set of concerns and concepts than they had previously ( dalam lapangan-lapangan kejuruan, kita menemukan banyak orang yang menyatakan, bahwa teknik – teknik dan strategi-strategi yang nampaknya bermanfaat ternyata tidak berjalan baik. Misalnya kritik Peter Blake tentang arsitektur modern dalam "Bentuk Mengikuti Kegagalan". Orang-orang dalam maupun luar, kedua-duanya mulai bertanya. "Sedang apa kita ini, dan mengapa?" Lalu mereka mengubah suatu kerangka keterlibatan dan konsep – konsep yang jauh lebih kaya dan sebeIumnya.
Harus diakui, bahwa prestasi teknologi benar-benar gilang-gemilang.Tetapi pertanyaan paling penting tidak di situ. Robert Morrison, juga dari kalangan pemikir teknologi terkemuka dari Massachusetts, berpendapat "They are so very good at getting you to Paris in three hours, but so very poor at telling you what to do when you get there. " ( mereka, kaum teknolog, begitu pandai membawa anda ke Paris dalam hanya tiga jam, tetapi tak dapat memberi nasehat sedikit pun, sebiknya berbuat apa kalau sudah sampai di sana)." Namun kita tidak bolch mencela kaum teknologi dan para ahli sains begitu saja. Scbab mereka pun, seperti kita semua, adalah buah suatu iklim. "Rightly or wrongly, for better or for worse, modern science and technology are regarded as having originated in Galileo 's establishment of the primacy of efficient causes. Since that time no self-respecting scientist (except for an occasional embryologist and an even more occasional deviant evolutionist) would allow himself to talk seriously in terms offinal causes or purpose. (Benar atau keliru, demi perbaikan atau bahkan merusak, sains dan teknologi modern dipandang berakar pada pendirian Galileo yang membuktikan keutamaan penelitian sebab-musabab. Sejak masa itu tidak ada ahli sains satu pun yang punya harga diri (kecuali kadang-kadang ahli janin atau lebih jarang lagi ahli evolusi yang agak menyimpang) akan membiarkan diri berbicara serius dalam bidang hal - hal tujuan atau maksud akhir)".Namun, sebelum persoalan penting yang ditunjuk oleh Robert S. Morrison itu kita telaah lebih lanjut, baiklah kiranya kita mulai dengan hal ikhwal yang dekat saja dulu, yang sedang hangat menjadi soal masyarakat dan negara kita, yakni pertanyaan sekitar pemindahan atau pengalihan (transfer) teknologi dari negara-negara maju yang masuk ke negeri kita. Kumpulan tulisan dua jilid ini membicarakan masalah yang terkait dalam masalah dan proses transfer teknologi tersebut, tidak hanya segi tujuan politisnya, tetapi terutama juga segi dampak kebudayaannya. Volume II lebih memperdalam lagi masalah - masalah yang dikaji dalam Volume I dengan pembicaran tentang maksud dan kemungkinan-kemungkinan teknologi-teknologi alternatif tepat guna untuk mayoritas bangsa yang relatif masih sederhana, bentuk - bentuk yang lebih lunak, tidak kejam dan sebagainya. Tetapi yang lebih vital ialah pengkajian pertanyaan: Jiwa apa yang pada hakekatnya tersembunyi di dalam fenomena teknologi in concreto dari Barat yang datang kemari itu? Ideologi apa dan nafsu-mental apa yang tanpa sadar maupun sengaja telah mengejawantah dalam teknologi de facto itu? Melalui pengkajian itu kita dapat lebih waspada dan arif menghadapi akibat-akibat yang pada awal mula tidak tampak, namun akhirnyadapat menjerumuskan kita ke dalam situasi yang tidak pernah kita inginkan. Gagasan para ahli mengenai teknologi ini dimulai di halaman 1 dengan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bekas Menteri Perdagangan dan Riset, yang menyajikan uraian singkat padat mengenai isi serta hubungan antara sains (ilmu pengetahuan), penelitian (murni), teknologi dan kedudukan Indonesia di tengah perjuangan mahasulit: Teknologi dan Penataan Ekonomi Internasional. Penting bagi kita ialah pengertian pengembangan jenis-jenis teknologi yang diperlukan untuk menghadapi masalah-masalah pokok di masa mendatang, serta adaptasinya dengan perimbangan-perimbangan faktor - faktor produksi yang tersedia kongkrit di Indonesia. Menurut Sumitro, masyarakat kita membutuhkan tiga jenis teknologi, yaitu teknologi Maju, teknologi yang bersifat Adaptif (menyesuaikan) dan teknologi Protektif (perlindungan). Kebijaksanaan sekarang ialah, bagaimana penyusunan ramuan ketika jenis teknologi itu yang paling tepat, agar ketiga jenis itu saling menunjang sebaik mungkin. Antara lain sangat vitallah pertanyaan, bagaimana struktur-struktur kerja yang tradisional dapat dipadukan dengan pembaharuan-pembaharuan (inovasi) yang relevan.
Tulisan Dr. Filino Harahap di halaman 6 menolong kita menuju pengertian proses yang disebut Penyebaran teknologi (diffusion of technology) yang berjalan secara spontan namun perlahan-lahan, dan Pemindahan teknologi (transfer of technology) yang sengaja direncanakan secara sistematis. Kedua-duanya penting. Tinggal bagaimana ramuannya nanti dalam pelaksanaannya. Segeralah tampak dalam situasi dan kondisi negara sedang berkembang seumumnya, dan Indonesia khususnya, dua kutub yang harus dipertalikan, ialah pertama aspek investasi pemakaian teknologi baru, dan di lain pihak memaksimalkan Penyerapan tenaga kerja. Segeralah pula tampak, betapa mudah teorinya, betapa sulit prakteknya. Kecenderungan investor asing maupun investor dalam negeri selalu tergoda (dan kalah) untuk mempergunakan teknologi mutakhir, kendatipun itu berarti pengorbanan penyerapan tenaga kerja. Selain itu investor-investor besar yang mengandalkan cara-cara produksi dengan teknologi mutakhir lalu menjadi saingan amat berat bagi pengusaha-pengusaha dalam negeri yang sudah berjalan, namun semakin ketinggalan. Tentulah itu membawa kekecewaan dan ketegangan-ketegangan sosial yang luar biasa. " ... dari pengalaman sebagai anggota kelompok kerja di bidang kebijaksanaan ilmu dan teknologi," demikianlah Prof. Dr. Soedjana Sapii dari Institut Teknologi Bandung menulis, beliau dapat membuktikan perasaan frustrasi ini. "Dan ini terjadi setelah begitu banyak misi ahli asing datang ke Indonesia, masing-masing dengan rekomendasinya sendiri-sendiri," demikianlah Soedjana Sapii. Dari pihak lain, sulitlah kita menghindarkan diri dari penyebaran maupun pemindahan, pengalihan, impor teknologi. Sebagai pribadi perorangan atau kelompok idealis kita mungkin mampu menjauhi dunia teknologi, penuh ketentraman batin dalam alam sikap Mahatma Gandhi, akan tetapi defacto, lepas dari kita suka atau tidak suk a, bangsa kita selaku kesatuan kolektif sudah dan akan terus-menerus dilanda oleh gelombang-gelombang teknologi, dari tingkat biasa seperti pemerah bibir, sampai tingkat paling rumit dan mahal seperti reaktor nuklir, satelit angkasa dan sebagainya.
Teranglah, bahwa teknologi bukan cuma soal benda atau mesin. "Bagi saya," demikian Prof. Dr. A. Baiquni, Dirjen BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), "peralatan dan mesin-mesin, betapa pun kompleksnya atau sederhananya, bukanlah teknologi. Mereka adalah hasil teknologi .... " Yang lebih penting dari benda-benda belaka ialah proses suatu masyarakat menyediakan modal, manajemen, pihak-pihak yang mendesain, merencana, berproduksi, mendistribusi, memasarkan benda-benda hasil teknologi tersebut dalam rangkaian kegiatan ekonomi. "Kalau saya berbicara mengenai teknologi, maka yang saya maksudkan adalah hasil penerapan sistematik dari sains, yang merupakan himpunan rasionalitas insani kolektif, untuk memanfaatkan hidup dan mengendalikan gejala-gejala di dalam proses-proses produktif yang ekonomis". Yang ditonjolkan Baiquni adalah proses ekonomisnya. Akan tetapi yang dimaksudkan jelas lebih Iuas dari sektor ekonomi belaka. Istilah "himpunan rasionalitas insani kolektif" yang dipilihnya sudah menunjuk ke arah konsep teknologi yang lebih luas.
kompleks pengorganisasian teknologi yang lebih Iuas seperti yang ditunjukkan oleh Baiquni tadi diberi nama Technostructure oleh John Kenneth Galbraith, profesor ekonomi dari Harvard. Technostructure bukan hanya gugusan besar sekian proses teknologis saja, mulai dari ilham gagasan pertama sampai dengan pemasaran hasil-hasil teknologi itu, semacam wadah atau wahana pasif belaka, tetapi merupakan sesuatu yang berperangai penguasa. Galbraith (yang seperti pemenang hadiah Nobel Gunnar Myrdal sering diserang oleh kalangan seprofesinya karena dianggap kurang membatasi diri dalam perbatasan spesialisasi ilmu ekonomi, akibat ingin terlibatnya dengan masalah-masalah sosial), dalam pasal-pasal kedua bukunya The New Industrial State dan Economics and the Public Purpose yang kami muat di halaman 13 menguraikan secara singkat perkembangan proses intern sistem industrialisasi yang semakin tinggi, rumit dan besar.
Industri dan teknologi, lain dari di zaman Edison dan seluruh tradisi teknik masa lampau, sudah menjadi suatu organisme yang tidak hanya melibatkan ratus ribuan ahli, karyawan, namun telah juga merupakan suatu jaringan ketat antara dunia teknologi, ilmu pengetahuan, industri itu sendiri, bisnis, pemasaran, perbankan, bahkan lobbi yang menjamin pengintegrasian total dengan dunia politik dan militer. Demikian juga di dalam sektor industri itu sendiri yang tidak dapat lepas dari teknologi, faktor - faktor produksi tradisional yakni tanah, kerja dan modal telah tergeser ke bawah oleh dominasi faktor baru, ialah keahlian yang terorganisasi, dan khususnya kaum manajer. Tetapi salah satu warta yang penting dari Galbraith ialah sinyalemennya, bahwa harus dibedakan antara perusahaan dengan teknologi serta organisasi sederhana, yang ia sebut perusahaan sistern pasar, dan di pihak lain, perusahaan perencanaan yang berukuran raksasa dan karenanya berorganisasi rurnit serta perencanaan yang sernakin bersifat total. Di situasi dan kondisi sekarang ini, perusahaan sistem perencanaan mendominasi segala sesuatu sedangkan sistem pasar menjadi bawahannya. Sistem pasar membeli dengan harga- harga yang dalam bidang luas diperintah oel kekuasaan sistem perencanaan. Dan sebagian terbesar dari hasil – hasil serta jasa – jasanya dijual dengan harga- harga yang tak mungkin ia tentukan sendiri, tetapi yang lazim dikuasai oleh kekuatan jual-beli sistem perencanaan.
Yang dimaksud Galbraith dengan perusahaan pasar yang sede-. hana pertama-tama adalah perusahaan-perusahaan yang tidak besar di USA, akan tetapi kita dengan aman dapat berkesimpulan: apalagi perusahaan-perusahaan di negara-negara berkembang. Warta yang kedua, yang esensinya masih akaa diperkuat olch analisa ahli politik, Jacques Ellul, pada tulisannya di halaman 105 ialah tentang perangai teknologi yang dari kodratnya (dalam bentuk sekarang) menuju ke arah sistem kemasyarakatan dan kontrol kehidupan yang semakin otoriter, sentralistis dan tak kenal ampun dalam memaksakan dalil-dalil konsolidasi diri. Benar, yang diuraikan oleh Galbraith dalam tulisannya sebenarnya hanya menyangkut proses-proses teknologi tinggi dan rumit, lagi mahal. Tegasnya teknologi yang sudah mengungkapkan diri dalam in• dustri, dunia keuangan dan perwujudan lain-lain kapitalisme tinggi. Namun kita tak boleh lupa, bahwa teknologi tinggi lagi rumit berukuran raksasa tidak hanya terdapat di negara-negara yang relatif sudah sangat maju, akan tetapi telah masuk juga di negeri kita. Oleh karena itu apa yang berjalan di sana, langsung terasa di sini juga. Khususnya melalui aparatur sangat luas dan serba menyusup di mana-mana, yang disebut Multi-National Corporations (MNC), dampak kekuasaan teknologi tinggi sudahlah sangat terasa di tanah air kita. Persoalan MNC tentulah kompleks dan mustahil dapat dibahas tuntas dalam buku sesederhana ini, namun cuplikan tulisan Richard J. Barnet dan Ronald E. Muller berikutnya di halaman 26 semoga dapat memberi penerangan sedikit mengenai arti mekanisme raksasa itu yang patut kita tanggapi dengan kewaspadaan. Namun realitas MNC hanya salah satu dari sekian perkara teknologi yang harus dihadapi oleh negara yang baru saja meraih kemerdekaan politiknya dengan sekian banyak korban, yakni sebagian dan masalah ketergantungan. Sebab bagi pihak bangsa-bangsa yang sedans berkembang (namun juga untuk kalangan progresif di negara-negara maju itu sendiri), konsep pemindahan teknologi memang bagus dan tidak bisa lain. Tetapi itu hanya bagus in abstracto selaku teori. In creto masalahnya mendadak menjadi lain.
http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
https://journal.uny.ac.id
Kumpulan gagasan-gagasan para ahli dari bermacam-macam spesialisasi, baik dari Indonesia sendiri maupun dari Iuar negeri, semoga bias utnuk memahami cara-cara kerja serta dampak pengaruh teknologi itu bagi kehidupan kita. Namun tak ketinggalan pula, semoga dapat merenungkan lebih jauh dan lebih dalam lagi mengenai hakekat teknologi itu sendiri, jiwa dan ideologi maupun filsafat apa yang sebenarnya telah mengejawantah dalam benda-benda hasil teknologi maupun proses mental sosialnya yang sangat perlu kita perhatikan. Demikianlah semoga lebih bertanggungjawablah kita dalam pengolahan serta penataan seluruh kornpleks teknologi, baik bagi yang menerima maupun yang menolaknya atau lebih tepat, mana yang harus kita terima dan kita asimilasi ke dalam tubuh kebudayaan kita, dan mana yang wajib kita tolak. Kami berangkat dari pengandaian, bahwa mau tidak mau kita harus aktif berhadapan dan mengolah segala apa yang berkaitan dengan Teknologi. Aktif disini berarti gamblang, paham perkara dan tahu solusinya, bertanggung jawab baik bagi pribadi maupun generasi yang akan datang. Apakah makna dan dampak kebudayaan masyarakat; pertanyaan-pertanyaan senada "rnau ke mana", "mengapa justru itu dan begitu", "untuk apa" dan sebagainya. Sebab pertanyaan-pertanyaan perihal teknologi searah itu sangat menentukan demi pengembangan strategi dan politik teknologi yang arif.
Memanglah, pengangkatan suatu bangsa berwarga 150 juta orang tidak mungkin tanpa pertolongan teknologi. Namun struktur, cara kerja dan banyak perkara dalam proses berteknologi di masa sekarang sudah kelewat kompleks. Simple homilies about progress or the exclusive use of criteria of economic efficiency will no longer suffice ( khotbah – khotbah gampang tentang kemajuan atau penggunaan efisiensi ekonomi selaku tolok ukur satu-satunya sudah tidak cukup Iagi), demikian pendapat Langdon Winner, ahli ilmu politik teknologi dan kualitas hidup dari Massachusetts Institute of Technology. In the professions, you find many people arguing that what appeared to be useful techniques and strategies haven't worked well, for example Peter Blake's criticism of modern architecture in "Form Follows Fiasco". Both insiders and outsiders are beginning to ask "What are we doing here, and why?" and drawing upon a much richer set of concerns and concepts than they had previously ( dalam lapangan-lapangan kejuruan, kita menemukan banyak orang yang menyatakan, bahwa teknik – teknik dan strategi-strategi yang nampaknya bermanfaat ternyata tidak berjalan baik. Misalnya kritik Peter Blake tentang arsitektur modern dalam "Bentuk Mengikuti Kegagalan". Orang-orang dalam maupun luar, kedua-duanya mulai bertanya. "Sedang apa kita ini, dan mengapa?" Lalu mereka mengubah suatu kerangka keterlibatan dan konsep – konsep yang jauh lebih kaya dan sebeIumnya.
Harus diakui, bahwa prestasi teknologi benar-benar gilang-gemilang.Tetapi pertanyaan paling penting tidak di situ. Robert Morrison, juga dari kalangan pemikir teknologi terkemuka dari Massachusetts, berpendapat "They are so very good at getting you to Paris in three hours, but so very poor at telling you what to do when you get there. " ( mereka, kaum teknolog, begitu pandai membawa anda ke Paris dalam hanya tiga jam, tetapi tak dapat memberi nasehat sedikit pun, sebiknya berbuat apa kalau sudah sampai di sana)." Namun kita tidak bolch mencela kaum teknologi dan para ahli sains begitu saja. Scbab mereka pun, seperti kita semua, adalah buah suatu iklim. "Rightly or wrongly, for better or for worse, modern science and technology are regarded as having originated in Galileo 's establishment of the primacy of efficient causes. Since that time no self-respecting scientist (except for an occasional embryologist and an even more occasional deviant evolutionist) would allow himself to talk seriously in terms offinal causes or purpose. (Benar atau keliru, demi perbaikan atau bahkan merusak, sains dan teknologi modern dipandang berakar pada pendirian Galileo yang membuktikan keutamaan penelitian sebab-musabab. Sejak masa itu tidak ada ahli sains satu pun yang punya harga diri (kecuali kadang-kadang ahli janin atau lebih jarang lagi ahli evolusi yang agak menyimpang) akan membiarkan diri berbicara serius dalam bidang hal - hal tujuan atau maksud akhir)".Namun, sebelum persoalan penting yang ditunjuk oleh Robert S. Morrison itu kita telaah lebih lanjut, baiklah kiranya kita mulai dengan hal ikhwal yang dekat saja dulu, yang sedang hangat menjadi soal masyarakat dan negara kita, yakni pertanyaan sekitar pemindahan atau pengalihan (transfer) teknologi dari negara-negara maju yang masuk ke negeri kita. Kumpulan tulisan dua jilid ini membicarakan masalah yang terkait dalam masalah dan proses transfer teknologi tersebut, tidak hanya segi tujuan politisnya, tetapi terutama juga segi dampak kebudayaannya. Volume II lebih memperdalam lagi masalah - masalah yang dikaji dalam Volume I dengan pembicaran tentang maksud dan kemungkinan-kemungkinan teknologi-teknologi alternatif tepat guna untuk mayoritas bangsa yang relatif masih sederhana, bentuk - bentuk yang lebih lunak, tidak kejam dan sebagainya. Tetapi yang lebih vital ialah pengkajian pertanyaan: Jiwa apa yang pada hakekatnya tersembunyi di dalam fenomena teknologi in concreto dari Barat yang datang kemari itu? Ideologi apa dan nafsu-mental apa yang tanpa sadar maupun sengaja telah mengejawantah dalam teknologi de facto itu? Melalui pengkajian itu kita dapat lebih waspada dan arif menghadapi akibat-akibat yang pada awal mula tidak tampak, namun akhirnyadapat menjerumuskan kita ke dalam situasi yang tidak pernah kita inginkan. Gagasan para ahli mengenai teknologi ini dimulai di halaman 1 dengan Prof. Dr. Sumitro Djojohadikusumo, bekas Menteri Perdagangan dan Riset, yang menyajikan uraian singkat padat mengenai isi serta hubungan antara sains (ilmu pengetahuan), penelitian (murni), teknologi dan kedudukan Indonesia di tengah perjuangan mahasulit: Teknologi dan Penataan Ekonomi Internasional. Penting bagi kita ialah pengertian pengembangan jenis-jenis teknologi yang diperlukan untuk menghadapi masalah-masalah pokok di masa mendatang, serta adaptasinya dengan perimbangan-perimbangan faktor - faktor produksi yang tersedia kongkrit di Indonesia. Menurut Sumitro, masyarakat kita membutuhkan tiga jenis teknologi, yaitu teknologi Maju, teknologi yang bersifat Adaptif (menyesuaikan) dan teknologi Protektif (perlindungan). Kebijaksanaan sekarang ialah, bagaimana penyusunan ramuan ketika jenis teknologi itu yang paling tepat, agar ketiga jenis itu saling menunjang sebaik mungkin. Antara lain sangat vitallah pertanyaan, bagaimana struktur-struktur kerja yang tradisional dapat dipadukan dengan pembaharuan-pembaharuan (inovasi) yang relevan.
Tulisan Dr. Filino Harahap di halaman 6 menolong kita menuju pengertian proses yang disebut Penyebaran teknologi (diffusion of technology) yang berjalan secara spontan namun perlahan-lahan, dan Pemindahan teknologi (transfer of technology) yang sengaja direncanakan secara sistematis. Kedua-duanya penting. Tinggal bagaimana ramuannya nanti dalam pelaksanaannya. Segeralah tampak dalam situasi dan kondisi negara sedang berkembang seumumnya, dan Indonesia khususnya, dua kutub yang harus dipertalikan, ialah pertama aspek investasi pemakaian teknologi baru, dan di lain pihak memaksimalkan Penyerapan tenaga kerja. Segeralah pula tampak, betapa mudah teorinya, betapa sulit prakteknya. Kecenderungan investor asing maupun investor dalam negeri selalu tergoda (dan kalah) untuk mempergunakan teknologi mutakhir, kendatipun itu berarti pengorbanan penyerapan tenaga kerja. Selain itu investor-investor besar yang mengandalkan cara-cara produksi dengan teknologi mutakhir lalu menjadi saingan amat berat bagi pengusaha-pengusaha dalam negeri yang sudah berjalan, namun semakin ketinggalan. Tentulah itu membawa kekecewaan dan ketegangan-ketegangan sosial yang luar biasa. " ... dari pengalaman sebagai anggota kelompok kerja di bidang kebijaksanaan ilmu dan teknologi," demikianlah Prof. Dr. Soedjana Sapii dari Institut Teknologi Bandung menulis, beliau dapat membuktikan perasaan frustrasi ini. "Dan ini terjadi setelah begitu banyak misi ahli asing datang ke Indonesia, masing-masing dengan rekomendasinya sendiri-sendiri," demikianlah Soedjana Sapii. Dari pihak lain, sulitlah kita menghindarkan diri dari penyebaran maupun pemindahan, pengalihan, impor teknologi. Sebagai pribadi perorangan atau kelompok idealis kita mungkin mampu menjauhi dunia teknologi, penuh ketentraman batin dalam alam sikap Mahatma Gandhi, akan tetapi defacto, lepas dari kita suka atau tidak suk a, bangsa kita selaku kesatuan kolektif sudah dan akan terus-menerus dilanda oleh gelombang-gelombang teknologi, dari tingkat biasa seperti pemerah bibir, sampai tingkat paling rumit dan mahal seperti reaktor nuklir, satelit angkasa dan sebagainya.
Teranglah, bahwa teknologi bukan cuma soal benda atau mesin. "Bagi saya," demikian Prof. Dr. A. Baiquni, Dirjen BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), "peralatan dan mesin-mesin, betapa pun kompleksnya atau sederhananya, bukanlah teknologi. Mereka adalah hasil teknologi .... " Yang lebih penting dari benda-benda belaka ialah proses suatu masyarakat menyediakan modal, manajemen, pihak-pihak yang mendesain, merencana, berproduksi, mendistribusi, memasarkan benda-benda hasil teknologi tersebut dalam rangkaian kegiatan ekonomi. "Kalau saya berbicara mengenai teknologi, maka yang saya maksudkan adalah hasil penerapan sistematik dari sains, yang merupakan himpunan rasionalitas insani kolektif, untuk memanfaatkan hidup dan mengendalikan gejala-gejala di dalam proses-proses produktif yang ekonomis". Yang ditonjolkan Baiquni adalah proses ekonomisnya. Akan tetapi yang dimaksudkan jelas lebih Iuas dari sektor ekonomi belaka. Istilah "himpunan rasionalitas insani kolektif" yang dipilihnya sudah menunjuk ke arah konsep teknologi yang lebih luas.
kompleks pengorganisasian teknologi yang lebih Iuas seperti yang ditunjukkan oleh Baiquni tadi diberi nama Technostructure oleh John Kenneth Galbraith, profesor ekonomi dari Harvard. Technostructure bukan hanya gugusan besar sekian proses teknologis saja, mulai dari ilham gagasan pertama sampai dengan pemasaran hasil-hasil teknologi itu, semacam wadah atau wahana pasif belaka, tetapi merupakan sesuatu yang berperangai penguasa. Galbraith (yang seperti pemenang hadiah Nobel Gunnar Myrdal sering diserang oleh kalangan seprofesinya karena dianggap kurang membatasi diri dalam perbatasan spesialisasi ilmu ekonomi, akibat ingin terlibatnya dengan masalah-masalah sosial), dalam pasal-pasal kedua bukunya The New Industrial State dan Economics and the Public Purpose yang kami muat di halaman 13 menguraikan secara singkat perkembangan proses intern sistem industrialisasi yang semakin tinggi, rumit dan besar.
Industri dan teknologi, lain dari di zaman Edison dan seluruh tradisi teknik masa lampau, sudah menjadi suatu organisme yang tidak hanya melibatkan ratus ribuan ahli, karyawan, namun telah juga merupakan suatu jaringan ketat antara dunia teknologi, ilmu pengetahuan, industri itu sendiri, bisnis, pemasaran, perbankan, bahkan lobbi yang menjamin pengintegrasian total dengan dunia politik dan militer. Demikian juga di dalam sektor industri itu sendiri yang tidak dapat lepas dari teknologi, faktor - faktor produksi tradisional yakni tanah, kerja dan modal telah tergeser ke bawah oleh dominasi faktor baru, ialah keahlian yang terorganisasi, dan khususnya kaum manajer. Tetapi salah satu warta yang penting dari Galbraith ialah sinyalemennya, bahwa harus dibedakan antara perusahaan dengan teknologi serta organisasi sederhana, yang ia sebut perusahaan sistern pasar, dan di pihak lain, perusahaan perencanaan yang berukuran raksasa dan karenanya berorganisasi rurnit serta perencanaan yang sernakin bersifat total. Di situasi dan kondisi sekarang ini, perusahaan sistem perencanaan mendominasi segala sesuatu sedangkan sistem pasar menjadi bawahannya. Sistem pasar membeli dengan harga- harga yang dalam bidang luas diperintah oel kekuasaan sistem perencanaan. Dan sebagian terbesar dari hasil – hasil serta jasa – jasanya dijual dengan harga- harga yang tak mungkin ia tentukan sendiri, tetapi yang lazim dikuasai oleh kekuatan jual-beli sistem perencanaan.
Yang dimaksud Galbraith dengan perusahaan pasar yang sede-. hana pertama-tama adalah perusahaan-perusahaan yang tidak besar di USA, akan tetapi kita dengan aman dapat berkesimpulan: apalagi perusahaan-perusahaan di negara-negara berkembang. Warta yang kedua, yang esensinya masih akaa diperkuat olch analisa ahli politik, Jacques Ellul, pada tulisannya di halaman 105 ialah tentang perangai teknologi yang dari kodratnya (dalam bentuk sekarang) menuju ke arah sistem kemasyarakatan dan kontrol kehidupan yang semakin otoriter, sentralistis dan tak kenal ampun dalam memaksakan dalil-dalil konsolidasi diri. Benar, yang diuraikan oleh Galbraith dalam tulisannya sebenarnya hanya menyangkut proses-proses teknologi tinggi dan rumit, lagi mahal. Tegasnya teknologi yang sudah mengungkapkan diri dalam in• dustri, dunia keuangan dan perwujudan lain-lain kapitalisme tinggi. Namun kita tak boleh lupa, bahwa teknologi tinggi lagi rumit berukuran raksasa tidak hanya terdapat di negara-negara yang relatif sudah sangat maju, akan tetapi telah masuk juga di negeri kita. Oleh karena itu apa yang berjalan di sana, langsung terasa di sini juga. Khususnya melalui aparatur sangat luas dan serba menyusup di mana-mana, yang disebut Multi-National Corporations (MNC), dampak kekuasaan teknologi tinggi sudahlah sangat terasa di tanah air kita. Persoalan MNC tentulah kompleks dan mustahil dapat dibahas tuntas dalam buku sesederhana ini, namun cuplikan tulisan Richard J. Barnet dan Ronald E. Muller berikutnya di halaman 26 semoga dapat memberi penerangan sedikit mengenai arti mekanisme raksasa itu yang patut kita tanggapi dengan kewaspadaan. Namun realitas MNC hanya salah satu dari sekian perkara teknologi yang harus dihadapi oleh negara yang baru saja meraih kemerdekaan politiknya dengan sekian banyak korban, yakni sebagian dan masalah ketergantungan. Sebab bagi pihak bangsa-bangsa yang sedans berkembang (namun juga untuk kalangan progresif di negara-negara maju itu sendiri), konsep pemindahan teknologi memang bagus dan tidak bisa lain. Tetapi itu hanya bagus in abstracto selaku teori. In creto masalahnya mendadak menjadi lain.
http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
https://journal.uny.ac.id
Komentar
Posting Komentar