Langsung ke konten utama

Resensi buku " Teknologi dan dampak kebudayaannya"

Disini saya akan berbagi apa yang saya baca dan meresensi nya atau lebih tepatnya menyampaikan ulang sebagian besar yang ada pada buku yang berjudul “Teknologi dan dampak kebudayaanny Manusia tidak akan tinggal diam  saja.  Lagi,  bila  kita  melihat  keluasan  dan  kemaharayaan  angkasa dengan  sekian  galaksi  penuh  misteri,  namun  juga  dunia  mahakecil dalam unsur-unsur atom  ataupun alam  bakteri  dan  virus, yang  serba menghimbau  dan  menggoda keberanian sains dan  teknologi  sang  manusia, maka  kita  hanya dapat  tepekur  diam  penuh  syukur.  Namun bila pandangan  kita terarah horisontal dan  melihat  sekian  masalah  kemis• kinan  dan  keterbelakangan  kawan-kawan sebangsa   dan   sekampung, ditambah  segala  kemacetan dan  kebingungan para  ahli  dan  penguasa menghadapi  semua  itu,  kita  tiba-tiba sadar,   bahwa  betapa  pun  hebatnya, teknologi   ruang   angkasa   dan   yang   tinggi   mahal   semacam  itu bukanlah tugas kita  yang  pertama dan  utama. Teknologi  yang menghimbau  kita   ialah  teknologi  yang   mampu  lekas menguasai persoalan – persoalan rnendesak    sehari-hari   yang   sangatlah    biasa:    air    minum, penerangan,  tekstil,   bahan-bahan  dan  konstruksi   perumahan,  jalan – jalan  kornunikasi  dan sebagainya. Namun  segera kita  sadar  juga,  bahwa teknologi  yang  "biasa"  di dalam  situasi  dan kondisi  masa kini :  tidak dapat  lepas  dari  teknologi  yang   lebih  tinggi,  lebih  rurnit,   lebih  luar biasa.
Kumpulan  gagasan-gagasan para  ahli   dari   bermacam-macam  spesialisasi,  baik  dari  Indonesia  sendiri  maupun  dari  Iuar   negeri,   semoga bias utnuk memahami   cara-cara   kerja   serta dampak  pengaruh  teknologi   itu   bagi   kehidupan  kita. Namun tak ketinggalan pula, semoga dapat  merenungkan lebih  jauh dan lebih  dalam lagi  mengenai hakekat teknologi  itu  sendiri,  jiwa  dan ideologi  maupun filsafat apa yang  sebenarnya  telah  mengejawantah  dalam  benda-benda hasil teknologi  maupun proses mental  sosialnya  yang sangat  perlu   kita perhatikan.  Demikianlah semoga lebih  bertanggungjawablah  kita dalam pengolahan  serta  penataan  seluruh kornpleks  teknologi,  baik bagi  yang menerima  maupun  yang   menolaknya atau  lebih   tepat,  mana  yang harus  kita terima dan kita asimilasi ke  dalam tubuh  kebudayaan  kita, dan mana yang wajib kita tolak. Kami berangkat dari pengandaian,  bahwa mau tidak  mau kita harus aktif berhadapan dan mengolah segala apa yang berkaitan dengan Teknologi. Aktif disini berarti gamblang, paham perkara dan tahu solusinya, bertanggung jawab baik bagi pribadi maupun generasi yang akan datang. Apakah makna dan  dampak  kebudayaan  masyarakat;  pertanyaan-pertanyaan senada   "rnau  ke  mana",  "mengapa  justru  itu  dan  begitu",   "untuk apa"  dan  sebagainya.  Sebab   pertanyaan-pertanyaan  perihal teknologi searah  itu  sangat  menentukan demi  pengembangan strategi  dan  politik teknologi  yang  arif.
Memanglah,  pengangkatan  suatu  bangsa berwarga  150  juta orang tidak   mungkin  tanpa pertolongan   teknologi.  Namun  struktur, cara kerja  dan  banyak  perkara  dalam  proses  berteknologi  di  masa  sekarang sudah  kelewat kompleks.  Simple homilies about progress or the exclusive use of criteria of economic efficiency  will no  longer suffice ( khotbah – khotbah gampang  tentang  kemajuan   atau   penggunaan  efisiensi ekonomi  selaku tolok  ukur  satu-satunya  sudah  tidak  cukup  Iagi),  demikian pendapat  Langdon  Winner, ahli  ilmu  politik  teknologi   dan  kualitas  hidup  dari  Massachusetts  Institute  of  Technology.  In  the professions,  you find  many people arguing that  what appeared to be useful techniques   and  strategies   haven't   worked   well,   for  example   Peter Blake's  criticism  of modern  architecture in  "Form  Follows Fiasco". Both insiders and outsiders are beginning to ask "What  are we doing here,  and why?" and drawing upon a much richer set of concerns and concepts  than  they  had previously ( dalam   lapangan-lapangan   kejuruan, kita menemukan banyak orang  yang  menyatakan, bahwa  teknik – teknik  dan  strategi-strategi  yang  nampaknya bermanfaat ternyata tidak berjalan baik.   Misalnya kritik   Peter  Blake  tentang arsitektur  modern dalam   "Bentuk  Mengikuti Kegagalan".  Orang-orang  dalam   maupun luar,  kedua-duanya mulai  bertanya.  "Sedang apa  kita ini,  dan  mengapa?"  Lalu  mereka mengubah suatu  kerangka keterlibatan dan  konsep – konsep yang  jauh  lebih  kaya dan sebeIumnya.
Harus  diakui, bahwa prestasi teknologi benar-benar gilang-gemilang.Tetapi  pertanyaan paling  penting tidak  di situ.  Robert  Morrison,  juga dari  kalangan  pemikir teknologi terkemuka  dari   Massachusetts, berpendapat "They are so very good at getting you to Paris in three hours,  but so very poor  at telling you what to do when you get there. " ( mereka, kaum  teknolog, begitu  pandai membawa anda   ke  Paris  dalam  hanya tiga jam, tetapi  tak  dapat memberi nasehat sedikit pun,  sebiknya  berbuat   apa  kalau   sudah   sampai   di  sana)." Namun   kita  tidak   bolch mencela  kaum  teknologi dan  para  ahli sains  begitu  saja.  Scbab  mereka pun, seperti  kita semua,  adalah  buah  suatu  iklim.  "Rightly or wrongly, for  better  or for  worse,  modern  science  and technology  are regarded as having  originated  in Galileo 's establishment of the primacy   of efficient causes.  Since that time no self-respecting scientist (except for an occasional  embryologist  and an  even  more  occasional  deviant  evolutionist)  would allow himself  to talk seriously  in terms offinal causes or purpose.  (Benar   atau   keliru,   demi  perbaikan  atau  bahkan  merusak, sains  dan  teknologi modern  dipandang berakar pada  pendirian Galileo yang  membuktikan keutamaan penelitian  sebab-musabab.   Sejak  masa itu  tidak   ada  ahli  sains satu  pun  yang  punya   harga  diri  (kecuali   kadang-kadang  ahli  janin atau  lebih jarang  lagi  ahli  evolusi  yang  agak menyimpang) akan  membiarkan diri berbicara serius dalam  bidang  hal - hal tujuan atau  maksud  akhir)".Namun,  sebelum  persoalan penting  yang  ditunjuk  oleh  Robert  S. Morrison itu kita telaah  lebih lanjut,  baiklah  kiranya kita  mulai dengan hal  ikhwal  yang  dekat   saja  dulu,   yang  sedang   hangat   menjadi  soal masyarakat dan negara  kita,  yakni pertanyaan sekitar pemindahan  atau pengalihan (transfer) teknologi  dari negara-negara maju  yang masuk  ke negeri  kita. Kumpulan  tulisan   dua  jilid   ini   membicarakan masalah yang terkait  dalam  masalah  dan  proses  transfer  teknologi  tersebut, tidak   hanya   segi  tujuan  politisnya,   tetapi   terutama juga   segi dampak kebudayaannya. Volume  II  lebih  memperdalam lagi  masalah - masalah yang dikaji  dalam  Volume  I dengan  pembicaran tentang  maksud dan  kemungkinan-kemungkinan teknologi-teknologi alternatif tepat guna  untuk   mayoritas  bangsa  yang  relatif  masih  sederhana,   bentuk - bentuk  yang lebih lunak,  tidak  kejam dan sebagainya. Tetapi  yang lebih vital  ialah  pengkajian  pertanyaan:  Jiwa   apa  yang  pada  hakekatnya tersembunyi di dalam  fenomena teknologi   in concreto  dari  Barat  yang datang  kemari  itu? Ideologi  apa dan nafsu-mental apa yang tanpa  sadar maupun sengaja telah  mengejawantah  dalam   teknologi  de facto  itu? Melalui  pengkajian itu  kita  dapat  lebih  waspada  dan  arif menghadapi akibat-akibat  yang  pada   awal  mula  tidak   tampak,  namun   akhirnyadapat  menjerumuskan  kita  ke  dalam   situasi   yang  tidak   pernah   kita inginkan. Gagasan  para  ahli mengenai  teknologi  ini dimulai di halaman 1 dengan   Prof.  Dr. Sumitro  Djojohadikusumo,  bekas  Menteri  Perdagangan  dan   Riset,   yang   menyajikan  uraian  singkat   padat mengenai isi serta  hubungan antara  sains  (ilmu  pengetahuan),  penelitian (murni), teknologi dan  kedudukan Indonesia di tengah  perjuangan mahasulit:  Teknologi  dan   Penataan  Ekonomi  Internasional. Penting bagi kita ialah pengertian pengembangan jenis-jenis  teknologi yang  diperlukan  untuk  menghadapi  masalah-masalah pokok   di  masa mendatang,   serta   adaptasinya  dengan    perimbangan-perimbangan   faktor - faktor produksi yang  tersedia  kongkrit  di Indonesia. Menurut  Sumitro, masyarakat   kita  membutuhkan  tiga  jenis   teknologi,   yaitu   teknologi Maju,  teknologi yang  bersifat Adaptif (menyesuaikan)  dan  teknologi Protektif (perlindungan).  Kebijaksanaan  sekarang   ialah,   bagaimana penyusunan  ramuan ketika  jenis  teknologi  itu  yang  paling  tepat,   agar ketiga jenis  itu saling  menunjang sebaik  mungkin.   Antara lain  sangat vitallah pertanyaan, bagaimana struktur-struktur kerja yang tradisional dapat dipadukan dengan pembaharuan-pembaharuan (inovasi) yang relevan.
Tulisan  Dr.  Filino Harahap  di  halaman 6  menolong   kita  menuju pengertian proses yang disebut Penyebaran teknologi (diffusion of technology) yang  berjalan secara  spontan   namun  perlahan-lahan,  dan Pemindahan teknologi (transfer of technology) yang sengaja direncanakan secara  sistematis.  Kedua-duanya  penting.  Tinggal   bagaimana  ramuannya nanti  dalam  pelaksanaannya. Segeralah  tampak dalam  situasi dan  kondisi   negara   sedang   berkembang  seumumnya,   dan   Indonesia khususnya,  dua   kutub   yang  harus   dipertalikan,  ialah  pertama  aspek investasi pemakaian teknologi baru,  dan  di lain  pihak  memaksimalkan Penyerapan tenaga kerja.  Segeralah  pula  tampak, betapa mudah  teorinya, betapa   sulit  prakteknya.  Kecenderungan investor  asing  maupun investor dalam  negeri selalu tergoda (dan  kalah)  untuk  mempergunakan teknologi  mutakhir,  kendatipun  itu   berarti  pengorbanan  penyerapan tenaga  kerja.  Selain   itu   investor-investor   besar   yang   mengandalkan cara-cara  produksi  dengan   teknologi   mutakhir  lalu   menjadi   saingan amat berat  bagi  pengusaha-pengusaha dalam  negeri  yang sudah  berjalan,  namun   semakin   ketinggalan.  Tentulah itu  membawa kekecewaan dan  ketegangan-ketegangan  sosial  yang  luar  biasa. " ...  dari  pengalaman  sebagai  anggota kelompok kerja  di bidang  kebijaksanaan ilmu  dan  teknologi,"  demikianlah Prof.  Dr.  Soedjana  Sapii dari  Institut  Teknologi  Bandung  menulis,  beliau  dapat  membuktikan perasaan frustrasi ini.  "Dan ini  terjadi setelah  begitu   banyak misi ahli asing   datang    ke   Indonesia,   masing-masing  dengan   rekomendasinya sendiri-sendiri," demikianlah  Soedjana Sapii. Dari pihak lain,  sulitlah kita  menghindarkan  diri  dari  penyebaran  maupun  pemindahan, pengalihan, impor   teknologi.   Sebagai   pribadi   perorangan  atau  kelompok idealis  kita  mungkin   mampu menjauhi dunia teknologi,  penuh  ketentraman batin dalam  alam sikap  Mahatma Gandhi, akan tetapi defacto, lepas  dari  kita  suka  atau  tidak  suk a,  bangsa kita  selaku   kesatuan  kolektif sudah  dan  akan  terus-menerus dilanda  oleh   gelombang-gelombang teknologi, dari  tingkat  biasa seperti  pemerah bibir,  sampai  tingkat paling  rumit  dan  mahal  seperti  reaktor  nuklir, satelit angkasa dan  sebagainya.
Teranglah,  bahwa   teknologi  bukan  cuma  soal   benda  atau  mesin. "Bagi saya,"  demikian Prof.  Dr.  A.  Baiquni,  Dirjen  BATAN (Badan Tenaga Atom Nasional), "peralatan dan mesin-mesin, betapa pun kompleksnya atau  sederhananya,  bukanlah teknologi.  Mereka  adalah hasil teknologi .... " Yang lebih  penting dari  benda-benda belaka ialah proses suatu  masyarakat  menyediakan modal, manajemen, pihak-pihak yang  mendesain, merencana, berproduksi,  mendistribusi,  memasarkan benda-benda hasil  teknologi tersebut  dalam  rangkaian  kegiatan  ekonomi.  "Kalau saya berbicara mengenai teknologi, maka yang  saya maksudkan adalah hasil  penerapan sistematik dari sains, yang  merupakan  himpunan rasionalitas insani  kolektif,  untuk memanfaatkan  hidup dan  mengendalikan gejala-gejala di dalam proses-proses produktif yang ekonomis". Yang ditonjolkan  Baiquni  adalah  proses  ekonomisnya. Akan  tetapi   yang  dimaksudkan  jelas  lebih   Iuas  dari  sektor  ekonomi belaka. Istilah "himpunan rasionalitas  insani  kolektif"  yang dipilihnya sudah  menunjuk ke arah  konsep teknologi  yang  lebih  luas.
kompleks pengorganisasian teknologi yang  lebih  Iuas seperti   yang ditunjukkan oleh   Baiquni  tadi   diberi nama  Technostructure oleh  John Kenneth  Galbraith,  profesor  ekonomi  dari  Harvard.  Technostructure bukan hanya  gugusan  besar  sekian  proses teknologis  saja,  mulai  dari ilham  gagasan pertama  sampai  dengan pemasaran  hasil-hasil teknologi itu,  semacam  wadah  atau  wahana  pasif  belaka,  tetapi  merupakan sesuatu yang   berperangai  penguasa. Galbraith (yang  seperti   pemenang hadiah Nobel  Gunnar  Myrdal  sering  diserang  oleh  kalangan  seprofesinya karena dianggap kurang membatasi diri  dalam perbatasan  spesialisasi  ilmu  ekonomi,  akibat ingin   terlibatnya  dengan masalah-masalah sosial), dalam pasal-pasal kedua bukunya The New Industrial State dan Economics  and the  Public  Purpose  yang   kami   muat  di  halaman  13 menguraikan  secara singkat perkembangan proses  intern sistem  industrialisasi  yang semakin  tinggi, rumit dan besar.
Industri  dan  teknologi, lain  dari di zaman  Edison  dan  seluruh  tradisi  teknik   masa  lampau, sudah  menjadi  suatu  organisme  yang   tidak  hanya  melibatkan  ratus ribuan   ahli,   karyawan,  namun telah   juga  merupakan suatu  jaringan ketat  antara dunia  teknologi,  ilmu   pengetahuan,  industri  itu  sendiri, bisnis,  pemasaran,  perbankan, bahkan lobbi  yang  menjamin pengintegrasian total dengan dunia politik dan  militer. Demikian juga di dalam sektor industri itu sendiri yang  tidak dapat lepas  dari  teknologi, faktor - faktor produksi tradisional  yakni  tanah,  kerja dan modal telah tergeser ke bawah oleh  dominasi faktor baru, ialah  keahlian yang terorganisasi, dan khususnya kaum manajer. Tetapi salah  satu  warta yang  penting dari Galbraith  ialah  sinyalemennya,   bahwa harus dibedakan antara  perusahaan dengan  teknologi serta organisasi  sederhana,  yang  ia  sebut  perusahaan sistern  pasar,  dan di pihak  lain,   perusahaan  perencanaan yang   berukuran  raksasa dan karenanya berorganisasi rurnit serta  perencanaan yang sernakin bersifat total.  Di  situasi  dan kondisi sekarang ini, perusahaan sistem perencanaan mendominasi segala  sesuatu  sedangkan sistem  pasar menjadi bawahannya. Sistem pasar membeli dengan  harga- harga yang dalam bidang luas diperintah oel kekuasaan sistem perencanaan. Dan sebagian terbesar dari hasil – hasil serta jasa – jasanya dijual dengan harga- harga  yang tak  mungkin ia  tentukan sendiri,  tetapi  yang lazim dikuasai oleh  kekuatan  jual-beli sistem  perencanaan.
Yang dimaksud  Galbraith  dengan   perusahaan  pasar   yang  sede-. hana  pertama-tama adalah perusahaan-perusahaan yang  tidak  besar di USA,   akan  tetapi  kita   dengan   aman  dapat  berkesimpulan: apalagi perusahaan-perusahaan di negara-negara berkembang. Warta yang kedua, yang esensinya  masih  akaa diperkuat olch analisa  ahli  politik,  Jacques Ellul,  pada  tulisannya di  halaman  105  ialah tentang perangai  teknologi yang  dari  kodratnya  (dalam  bentuk   sekarang)  menuju ke  arah  sistem  kemasyarakatan dan  kontrol  kehidupan yang  semakin  otoriter, sentralistis dan  tak  kenal  ampun dalam  memaksakan  dalil-dalil konsolidasi diri. Benar,  yang diuraikan oleh Galbraith dalam  tulisannya sebenarnya hanya    menyangkut   proses-proses   teknologi   tinggi   dan   rumit,   lagi mahal. Tegasnya teknologi yang  sudah  mengungkapkan diri  dalam  in• dustri,  dunia   keuangan  dan   perwujudan  lain-lain  kapitalisme  tinggi. Namun kita  tak  boleh  lupa,   bahwa   teknologi  tinggi  lagi  rumit  berukuran raksasa tidak hanya  terdapat di negara-negara yang  relatif sudah sangat  maju, akan  tetapi  telah  masuk  juga  di negeri  kita.  Oleh  karena itu apa  yang  berjalan di sana, langsung  terasa  di sini juga.   Khususnya melalui aparatur sangat  luas dan  serba menyusup di mana-mana, yang disebut Multi-National Corporations  (MNC),  dampak  kekuasaan teknologi  tinggi  sudahlah sangat  terasa  di tanah air  kita. Persoalan MNC tentulah kompleks dan mustahil  dapat  dibahas tuntas dalam  buku  sesederhana ini,  namun cuplikan tulisan  Richard J.  Barnet dan  Ronald  E. Muller berikutnya di  halaman 26 semoga  dapat   memberi  penerangan sedikit mengenai arti  mekanisme raksasa itu  yang  patut kita  tanggapi dengan kewaspadaan. Namun realitas MNC  hanya  salah  satu  dari  sekian  perkara  teknologi  yang  harus   dihadapi  oleh  negara   yang  baru   saja  meraih  kemerdekaan politiknya dengan   sekian  banyak  korban,  yakni  sebagian dan masalah  ketergantungan.  Sebab bagi  pihak  bangsa-bangsa yang sedans berkembang  (namun juga  untuk  kalangan  progresif di  negara-negara maju   itu  sendiri),  konsep  pemindahan  teknologi   memang  bagus  dan tidak bisa lain.  Tetapi  itu hanya  bagus  in abstracto  selaku teori. In creto masalahnya mendadak menjadi lain.



http://uny.ac.id
http://library.uny.ac.id
https://journal.uny.ac.id

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Lumia Black

UPDATE Lumia Black untuk Lumia 520 region Indonesia Nokia secara resmi mengumumkan bahwa software update "Lumia Black" sudah mulai dirilis bertahap untuk Nokia Lumia dengan Windows Phone 8. Update Lumia Black yang sudah berjalan selama 1 bulan lebih untuk pengguna Lumia diseluruh dunia, termasuk di Indonesia . Update Lumia Black yang mempunyai fitur-fitur terbaru yang menambahkan fitur yang kurang pada update Lumia Amber.Update Lumia Black yang ada di Indonesia didahulukan device terbaru Nokia yang baru saja masuk ke pasar Indoneisa, Lumia 925 & 1020. Setelah 2 device terbaru tersebut mendapatkan update, barulah Lumia 920, 820, 625. Tetapi sebagian pengguna Lumia 520 di Indonesia sudah mendapatkan notifikasi update Lumia Black.      "Lumia Black" membawa beberapa fitur baru, peningkatan kinerja, stabilitas dan perbaikan-perbaikan fitur dan bugs .Dan kali ini ane khusu akan menjelaskan fitur fitur pada update Lumia Black pada Nokia Lumia 520 ...

Sedikit ilmu dari SCEM-nya Suzuki

Bismillah, sama2 belajar, salam kasar tangan hitam... Sharing dan bertukar pikiran mengenai teknologi SCEM (Suzuki Composite Electrochemical Material) cekidottts ulasannya lur............ 1. Juga dikenal dengan teknologi NiKaSIl (Nickle-Silicon-Carbide) https://en.m.wikipedia.org/wiki/Nikasil 2. Diaplikasikan di lapisan terluar dinding liner silinder (yang mana blok mesin terbuat dari aluminium)  3. Terbentuk dengan cara electroplating https://en.m.wikipedia.org/wiki/Electroplating 4. Electroplating di permukaan alumunium dengan Nikel-Silikon Karbida akan menghasilkan dinding liner silinder mesin jadi lebih keras dan durable 5. Secara teori di atas kertas disebutkan bahwa  ketebalan lapisannya 10 -100 μm, dengan ukuran partikel silikon karbida hanya sebesar sekitar 2,5 μm (mikron cuk)  6. Karena keseluruhan material yang ada pada blok silinder tetaplah aluminium maka selain bobot silinder blok menjadi lebih ringan daripada yang terbuat dari besi/ba...